Di tengah hamparan luas sebuah lapangan di dalam hutan lebat, Lynx duduk bersila dengan mata terpejam. Tubuhnya diam, namun napasnya perlahan dan dalam, menandakan dirinya sedang dalam keadaan konsentrasi tinggi. Ia mencoba meresapi setiap denyut fluktuasi energi di sekitarnya, berharap menemukan petunjuk tentang keberadaan Arkha, Kael, dan Narendra. Namun, seperti sebelumnya, jejak energi sakti miliknya yang berasal dari kertas formasi milik salah satu dari Kael, Narendra, Arkha atau Karim berada di tempat ini, dan lintasan energi itu tetap terputus di titik yang sama. Lynx belum menemukan petunjuk, tidak ada arah yang bisa diikuti lebih jauh.

Lynx mengernyit dalam diam. Pikirannya terus berputar.

"Jika ruang dimensi itu memang tersembunyi di dalam artefak yang telah hancur ini, seharusnya energi saktiku akan menuntunku langsung ke artefak ini. Tapi justru tidak... Energinya malah mengarah ke tengah lapangan dan menghilang begitu saja, seolah terhisap oleh kehampaan."

Ia menghela napas panjang dan kembali memperluas kesadarannya, menyapu setiap sudut area itu dengan kekuatan spiritualnya, memastikan tak ada celah yang terlewat, tak ada titik yang luput dari perhatian.

Tak jauh dari sana, Rira duduk santai di atas batu besar sambil menikmati apel yang renyah. Raut wajahnya menunjukkan kepuasan, bahkan sedikit geli, seolah menyaksikan pertunjukan menghibur. Ia telah mengawasi Lynx selama berjam-jam, sejak malam sebelumnya, menyaksikan betapa pemuda itu mati-matian berusaha menembus ruang dimensi tempat ketiga rekannya terjebak.

Teringat olehnya bagaimana Arkha, Kael, dan Narendra dengan begitu mudah terjebak dalam tipu muslihatnya. Dengan niat ingin menyelamatkan suku Surya, mereka datang ketempat ini menggunakan portal teleportasi. Tanpa ragu Rira membuka gerbang dimensi menggunakan kunci dimensi yang didapatkannya dari tetua Xie Lian. Dalam pengaruh ilusi, begitu pintu ke ruang dimensi itu terbuka, mereka masuk tanpa curiga, tak sadar bahwa mereka sedang berjalan ke dalam perangkap.

Di dalam ruang dimensi tersebut, tersembunyi sebuah fragmen senjata iblis yang telah lama dikunci dan disembunyikan dari dunia luar. Setelah memasuki dimensi itu, sihir ilusi yang kuat mulai melemah, kekuatan ilusi untuk menutupi apa yang dilakukan Rira agar mereka tidak curiga, kesadaran mereka mulai pulih normal kembali. Mereka mulai menyadari bahwa tempat itu bukan sekadar ruang kosong, melainkan wilayah berbahaya yang penuh jebakan mematikan. Mereka pun terpaksa bekerja sama untuk bertahan, saling melindungi satu sama lain demi melewati berbagai rintangan yang muncul.

Namun di saat mereka semua sibuk, itulah momen yang Rira tunggu. Dengan tenang, ia memisahkan diri dari kelompok, menemukan fragmen senjata yang ia incar, dan keluar dari ruang dimensi tanpa sepengetahuan mereka.

Kini, ia hanya bisa tersenyum kecil saat mengingat bagaimana ia dengan sengaja menghancurkan kunci dimensi lalu membuang serpihannya di tempat ini. Tanpa kunci itu, tak ada jalan kembali. Tak ada yang bisa menyusul Arkha, Kael, dan Narendra. Mereka benar-benar terperangkap.

Semua ini ia lakukan atas perintah Mira, sang Nyonya Agung yang berambisi menguasai tubuh Lynx. Mira tahu, selama Lynx masih memegang harapan, tubuh dan kekuatannya tak bisa dikuasainya. Tapi bila ia dihancurkan dari dalam, dijatuhkan ke titik terendah, hingga kehilangan semua yang ia cintai dan putus asa, maka tak ada lagi penghalang. Saat itulah, Mira bisa mengambil alih segalanya. Dan saat rencana itu berhasil, dia bisa menjalankan rencana selanjutnya.

Rira memandangi Lynx dari kejauhan dengan tatapan tajam penuh siasat. Dalam benaknya, ia ingin merancang rencana untuk mempermainkan Lynx. Ia bermaksud menggunakan sihir ilusi untuk mempengaruhi Lynx, dengan menciptakan bayangan palsu yang bisa mengacaukan pikirannya dan merusak jiwanya. Namun, suara dingin dan tegas milik Mira saat di ruangan kembali terngiang di kepalanya.

"Jangan gegabah menghadapi Lynx. Pemuda itu tidak bisa dipengaruhi sihir biasa. Jika kau asal bertindak, semua rencana kita akan runtuh begitu saja."

Rira mengepalkan jemarinya, menahan hasrat untuk langsung bertindak. Ia tahu Mira benar. Kekuatan Lynx bukan lah kekuatan sederhana. Untuk menjebaknya, ia harus menyusun rencana dengan sangat hati-hati. Setiap detail harus diperhitungkan. Sekali saja lengah, Lynx bisa membalikkan keadaan.

Di sisi lain, Lynx yang masih duduk dalam posisi meditasi tiba-tiba membuka matanya. Alisnya berkerut tajam. Ada sesuatu yang aneh. Ia mulai merasakan ada keganjilan yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Ia belum sempat memeriksa satu hal penting sejak tiba di tempat ini, di mana sebenarnya mereka berada.

Dengan cepat, ia mengalirkan energi saktinya ke segala penjuru, menyentuh kontur tanah, udara, hingga ritme alam di sekitarnya. Detik berikutnya, matanya melebar.

"Apa ini? Tempat ini... Apakah ini masih termasuk wilayah kerajaan Qingyuan. Tempat ini bahkan jauh... sangat jauh dari posisiku sebelumnya."

Pikiran Lynx langsung terbayang kembali ke momen sebelum mereka tiba di tempat ini.

"Aku terlalu fokus mengikuti alur lintasan energi karena mengkhawatirkan mereka. Aku tidak menduga bisa bertemu Rira ditempat itu dan tanpa pikir panjang untuk mengejar waktu, aku langsung menggendong dan membawanya ke tempat ini. Sekarang aku bingung sendiri ada dimana ini."

Lynx membuka matanya perlahan, menarik napas dalam, lalu berdiri dengan gerakan tenang. Tatapannya segera tertuju pada Rira yang masih duduk bersandar sambil menggigit sisa apel di tangannya.

Begitu melihatnya berdiri, Rira langsung memasang wajah khawatir dan bertanya dengan suara lembut, seolah peduli, "Kepala suku, bagaimana? Apa kamu sudah menemukan cara untuk menemukan mereka?"

Lynx hanya menggeleng pelan. Sorot matanya suram, dan meski tubuhnya tampak kuat seperti biasa, ada beban berat yang jelas terlihat di wajahnya. Bukan kelelahan fisik, melainkan tekanan dari semua peristiwa yang terjadi tanpa henti.

"Aku belum menemukan caranya," jawab Lynx lirih, matanya menatap kosong ke tanah di dekat kaki Rira. "Tapi ada satu hal yang menggangguku... kamu tahu tidak, kita ini sebenarnya ada di mana? Aku sama sekali tidak mengenali tempat ini."

Rira menyandarkan punggungnya lebih santai sambil memutar bola matanya dengan ekspresi menyebalkan. "Aduh, Kepala Suku... masa kamu tanya begitu ke aku? Gimana aku bisa tahu kalau kamu asal gendong aku seperti anak kucing lalu melesat entah kemana secepat kilat?"

Nada suaranya menyindir, disertai senyum setengah mengejek yang sengaja ditunjukkan di depan wajah Lynx.

Seketika wajah Lynx memerah. "Bagaimana aku bisa melupakannya. Aku tadi hanya memikirkan ada dimana sekarang berada, tetapi aku lupa jika sudah menggendong Rira tanpa izin terlebih dahulu darinya karena juga khawatir kehilangan dia lagi"

Ia mengalihkan pandangan, berdeham pelan, lalu bergumam lirih nyaris tak terdengar, "Aku... maafkan aku... saat itu tidak punya pilihan lain karena mengkhawatirkan rekan-rekan kita."

Rira hanya tersenyum kecil, puas melihat wajah Lynx yang jarang sekali terlihat kikuk seperti saat ini.  "Bagaimana sekarang?"

“Kita ke arah sana. Aku merasakan ada seseorang di sana,” ucap Lynx sambil menunjuk ke satu arah, matanya fokus pada titik yang ia rasakan sebelumnya melalui energi spiritualnya.

Rira berdiri dan mengibaskan debu dari pakaiannya. “Baik, Kepala Suku. Tapi kali ini jangan gendong aku lagi, ya. Kalau kamu nekat, akan aku adukan ke Leena,” ancamnya sambil tertawa geli.

Lynx menghela napas pendek, menahan senyum malu, lalu melangkah dengan agak cepat. Rira segera berlari mengejar Lynx.

Di tengah perjalanan, Rira bertanya untuk menhapus kesunyian diantara mereka. “Kepala Suku, ngomong-ngomong... di mana Leena? Kenapa kamu sendirian? Mana yang lainnya?”

Lynx tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Rira dengan pandangan tenang. “Leena baik-baik saja. Nanti aku akan membawamu bertemu dengan Leena, Jelita, dan Lala. Mereka pasti senang sekali melihatmu lagi. Mereka mengkhawatirkanmu selama ini.”

Mata Rira terlihat berbinar mendengar nama-nama yang disebutkan. Ia tersenyum hangat dan mengangguk. “Baiklah, Kepala Suku. Aku juga merindukan mereka. Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar suara mereka.”

Tanpa menjawab, Lynx kembali berjalan, lebih cepat dari sebelumnya. Rira tertawa kecil menertawakan pemuda di depannya yang belum menyadari sosok berbahaya disampingnya. Dia segera menyusul Lynx sambil mempercepat langkahnya, berusaha mengejar sosok pemuda yang mulai menghilang di balik pepohonan.

